Home | About Me | Contact | Sitemap | Link Exchange

Baca Ini

|

Belajar Dari Sebuah Cangkir

Belajar Dari Sebuah Cangkir -

Ada sebuah cerita yang membuat saya selalu teringat hingga saat ini, terutama pada saat sedang belajar.

Seorang biksu bertanya kepada seorang guru tentang berbagai hal. Ia ingin mempelajari sebanyak-banyaknya dari  sang guru yang terkenal dengan sifat kebijaksanaannya itu.

Sang guru dengan sabar dan telaten satu per satu menjawab pertanyaan sang murid itu. Terus menerus. Pada suatu hari, sang guru mengajak sang murid ke sebuah gubuk di tengah taman indah. Di sana tersedia teh dan cangkir kosong.

Beliau meminta sang murid untuk menyiapkan dua cangkir teh. Maka disiapkanlah oleh sang murid tersebut. Setelah dituang, sang guru berkata:

'Saya suka kamu ingin belajar. Dan sudah seharusnya kamu selalu belajar. Ingatlah. Belajar terus menerus selama hidupmu dari semua orang dan dari sekitarmu. Banyak yang bisa dipelajari.'

'Namun.. Saat kamu belajar, ada satu hal yang harus kamu ingat.' Lanjut sang guru sembari mengangkat teko berisikan teh tersebut. 'Janganlah seperti cangkir terisi ini. Yang kalau dituang dengan teh yang baru akan meluap.' Ujarnya sembari menuangkan teh ke dalam cangkir yang sudah terisi tersebut hingga meluap.

Beliau mengangkat cangkir yang meluap tersebut dan membuang isinya seraya berucap: 'kosongkan terlebih dahulu cangkirmu agar bisa diisi kembali dengan teh yang baru.' Beliau menuangkan teh ke dalam cangkir yang telah kosong itu tadi.

Sang murid mendengarkan dengan seksama dan berucap: 'saya mengerti guru. Saya akan ingat selalu.'

Kisah di atas selalu teringat oleh saya saat sedang 'belajar' kehidupan. Saat belajar, selaiknya kita seakan menjadi cangkir kosong yang siap menerima teh baru. Bolehlah bertanya.... Tapi... Kosongkan wadah terlebih dahulu untuk menerima pembelajaran baru dengan lebih baik.

Jika tak sehati setelah mendengarkan dengan seksama dan memahaminya, barulah kita bertukar pendapat, bukan menghakimi.

Kita terkadang bersikap seperti itu dalam hidup. Judgment yang telah ada dalam pikiran kita akan satu kondisi membuat kita berpikir kritis namun tak mau mengalah. Terkadang, kita perlu mendengarkan keadaan yang sebenarnya, lalu telaah dengan seksama dan pikiran jernih, layaknya sebuah cangkir kosong yang siap diisi dengan teh yang baru.

Setelah mengetahui yang sebenarnya, dan kita tak sependapat, ajaklah bertukar pendapat/pandangan dengan baik - tanpa emosi.

Marilah belajar....

Dari sebuah cangkir kosong.

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Belajar Dari Sebuah Cangkir
Ditulis oleh Ira Yuniarti
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://auto-advertising.blogspot.com/2012/11/belajar-dari-sebuah-cangkir.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini. Tak lengkap rasanya jika kunjungan anda di blog

Auto Financial Advertising

tanpa meninggalkan komentar. Untuk itu silahkan berikan tanggapan anda pada kotak komentar di bawah. Semoga artikel Belajar Dari Sebuah Cangkir ini bermanfaat untuk anda.
Title Post:
Belajar Dari Sebuah Cangkir

URL Post:
http://auto-advertising.blogspot.com/2012/11/belajar-dari-sebuah-cangkir.html

0 komentar:

Post a Comment